Vaksin Corona Buatan Oxford

Pada 8 Maret, Indonesia menerima 1,1 juta dosis vaksin COVID-19 jadi buatan AstraZeneca, yang didapatkan melalui skema multilateral COVAX. Vaksin tersebut telah memperoleh persetujuan izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. Para peneliti memodifikasinya untuk mengandung materi genetik yang dimiliki virus corona, tapi tidak menyebabkan penyakit. Setelah penerima menerima vaksin tersebut, tubuh akan membuat sistem kekebalan untuk melawan virus yang sebenarnya.

Iran tengah menunggu ketibaan 4,2 juta dosis vaksin AstraZeneca, yang lebih dari tiga juta dosisnya dibuat di Korea Selatan. Pasokan bagi Iran itu didapatkan melalui skema multilateral, COVAX, yang bertujuan untuk memasok vaksin COVID-19 ke negara-negara miskin. Seperti diketahui, mutasi virus corona ini telah membuat peningkatan kasus di Inggris, Amerika Serikat, dan beberapa negara lainnya. Tujuannya untuk memicu sistem kekebalan tubuh terhadap virus tanpa menimbulkan respons penyakit yang serius. Vaksin produksi Sinovac menjalani uji klinis di China, Indonesia, Turki, Brazil, dan Bangladesh. Sedangkan vaksin buatan AstraZeneca menjalani uji klinis di Inggris, Australia, dan Amerika Serikat .

Bola.com, Jakarta – Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, menekankan masyarakat tak perlu khawatir dengan penghentian penggunaan vaksin AstraZeneca batch CTMAV547. Sementara, hasil uji klinis Universitas Oxford menunjukkan efikasi AstraZeneca di Inggris dan Brasil mencapai 90 persen. Namun, BPOM menyatakan efikasi AstraZeneca sebesar 62,1 persen atau di bawah Sinovac yang 65,3 persen. Meski sudah tidak aktif, vaksin dengan virus nonaktif tetap mengandung virus utuh.

Seluruh kepala daerah di Jawa Tengah diminta untuk mewaspadai munculnya varian baru Covid-19. Manfaat dari vaksin AstraZeneca jauh lebih besar dibandingkan dengan efek sampingnya. Vaksin Astrazeneca tidak dianjurkan untuk diberikan kepada orang yang sedang demam dengan suhu di atas 38°C, menderita COVID-19, atau menderita penyakit infeksi yang berat.

Melalui media sosial Instagram, seorang edukator kesehatan dr. RA Adaninggar, spPD pun memberikan pendapat sekaligus membeberkan manfaat dan risiko terkait vaksin buatan Universitas Oxford, Inggris, itu dari pendapat berbagai ahli. Yang menarik dari kasus pembekuan darah yang terjadi pada penggunaan vaksin ini di Eropa, sebagian besar terjadi pada usia muda , bahkan di bawah 30 tahunan, dan kebanyakan adalah wanita. Karena itu, di Inggris, badan otoritas setempat merekomendasikan bagi mereka yang berusia di bawah 40 tahun untuk menggunakan vaksin selain AstraZeneca. Namun demikian, jika sudah menggunakan vaksin AstraZeneca pada suntikan pertama dan tidak mengalami masalah apapun, disarankan untuk meneruskan suntikan kedua dengan vaksin Astra Zeneca lagi. Umumnya, orang yang diberi vaksin dari virus nonaktif membutuhkan suntikan lebih dari sekali. Menurut penjelasan lembaga kesehatan enters for Disease Control and Prevention AS, dosis pertama tidak akan langsung menghasilkan kekebalan pelindung, melainkan ‘mengatur’ sistem kekebalan terlebih dahulu.

Vaksin Astrazeneca buatan mana

Selama penghentian ini, kata Wiku, Badan Pengawas Obat dan Makanan akan melakukan pengujian toksisitas dan strelilitas untuk memastikan keamanan dari vaksin tersebut. Adapun efek samping vaksin Sinovac yang tergolong berat yakni sakit kepala berat, gangguan kulit, dan diare. Namun dari proses pengujian yang dilakukan BPOM, efek samping berat hanya terjadi sekitar 0,1 hingga 1 persen usai disuntikkan ke dalam tubuh seseorang. Dikutip dari The BMJ , pemberian dosis vaksin pertama memberikan perlindungan 76% secara keseluruhan terhadap gejala COVID-19 dalam 90 hari pertama setelah vaksinasi. Namun, untuk penelitian ninety hari jumlah kasus yang dipantau tidak terlalu banyak, jadi secara knowledge masih bisa diperdebatkan.

Beri tahu dokter jika Anda menderita HIV/AIDS, lemahnya sistem kekebalan tubuh, atau sedang menjalani terapi dengan obat imunosupresan. Menurut Poonawalla, dosis yang ditujukan ke Arab Saudi akan dikirim dalam waktu satu pekan hingga 10 hari. SII juga memasok vaksin tersebut ke Afrika Selatan dengan 1,5 juta dosis dan dengan harga yang sama, masing-masing 5,25 dolar atas nama AstraZeneca. Vaksin akan masuk ke dalam sel-sel dalam tubuh dan mulai memproduksi duri-duri protein di sekeliling sel. Sistem imun tubuh akan merespons kehadiran protein itu dan mulai membentuk antibodi dan mengaktifkan sel T untuk membunuh sel-sel yang mengandung protein virus corona.

Nim