Vaksin Astrazeneca Dipastikan Enggak Ada Unsur Babi Lho

“Mengingat keterbatasan vaksin yang tersedia baik di Indonesia maupun di tingkat global,” kata Asrorun. Kelima, sambung Asrorun, pemerintah tidak memiliki keleluasaan memilih jenis vaksin mengingat keterbatasan vaksin yang tersedia baik di Indonesia maupun tingkat world. Namun, MUI membolehkan penggunaan vaksin buatan AstraZeneca produksi Korea Selatan yang mengandung babi karena alasan kedaruratan. Ia menjelaskan, secara sederhana, ada three hal yang menjadi pertimbangan haramnya suatu vaksin. Bahannya mengandung bahan haram atau dibuat dengan cara yang haram, dalam proses pembuatan vaksin itu melanggar hukum syariah, dan tidak jelas manfaat suatu vaksin apalagi jika mudharatnya jauh lebih besar.

Titik pijak MUI menghukum haram vaksin Covid-19 produksi AstraZeneca memang terletak pada tripsin yang berasal dari pankreas babi. KOMPAS.com – Beberapa waktu lalu, vaksin Covid-19 produksi AstraZeneca sempat menghebohkan masyarakat, karena diduga mengandung tripsin babi. Kelima, pemerintah tidak memiliki keleluasaan memilih jenis vaksin Covid-19 mengingat keterbatasan vaksin yang tersedia baik di Indonesia maupun di tingkat international. Ketersediaan vaksin COVID-19 yang halal dan suci tidak mencukupi untuk pelaksanaan vaksinasi COVID guna ikhtiar mewujudkan herd immunity.

“Pemerintah juga tidak memiliki keleluasaan memilih jenis vaksin Covid-19 mengingat keterbatasan vaksin yang tersedia. Menurutnya kondisi darurat ini diperkuat dengan pernyataan beberapa ahli yang dihadirkan dalam sidang fatwa MUI yang menyebutkan bahwa risikonya deadly jika vaksinasi ini tidak berjalan. MUI menyatakan vaksin Covid-19 buatan AstraZeneca haram digunakan karena mengandung babi.

Namun setelah calon virus ditanam dan tumbuh, virusnya dipisahkan oleh tripsin. Sehingga saat diolah menjadi vaksin, tak ada lagi bahan yang bersinggungan dengan babi. “Tapi kita tahu setidaknya dalam pembuatan vaksin itu ada three hal yang harus kita lihat pertama yakni penyiapan inang pembibitan vaksin. Inang pembibitan vaksin ini yang menggunakan materi berasal dari babi,” sambungnya. Kedua, ada keterangan dari ahli yang kompeten dan terpercaya tentang adanya bahaya atau risiko fatal jika tidak dilakukan vaksinasi Covid-19. Dia melanjutkan, beberapa negara Eropa yang semula menangguhkan vaksinasi Astrazeneca, telah memutuskan untuk melanjutkan kembali program vaksinasi dengan vaksin tersebut, setelah mendapatkan penjelasan EMA. BPOM menilai, risiko kematian akibat Covid-19 jauh lebih tinggi sehingga masyarakat tetap harus mendapatkan vaksinasi Covid-19 sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Dari zero,01 Liter Bank Sel untuk produksi untuk mendapatkan bibit virus, maka akan dilakukan pengenceran dengan menggunakan buffer dalam quantity 2000 Liter. Sedangkan, bibit virus merupakan sel yang diperbanyak lalu ditambah genom adenovirus . Bank Sel Host untuk produksi adalah sel-sel yang diperbanyak dan diadaptasi menjadi sel suspensi.

“Umat islam Indonesia wajib berpartisipasi dalam program vaksinasi Covid-19 yang dilaksanakan pemerintah untuk mewujudkan kekebalan kelompok atau herd immunity dan terbebas dari wabah Covid-19,” kata Asrorun. Asrorun Ni’am Sholeh, Ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Fatwa mengatakan vaksin AstraZeneca yang diproduksi oleh SK Bioscience di Andong Korea Selatan hukumnya memang haram karena dalam tahapan produksinya memanfaatkan tripsin yang berasal dari babi. Ia menjelaskan bahwa dalam proses produksi vaksin Oxford-AstraZeneca, menggunakan enzim TryPLE yang bekerja mirip seperti tripsin.

Vaksin Astrazeneca babi

Hal ini dilakukan demi melihat adanya keterkaitan antara penggunaan vaksin dengan sejumlah laporan serius dari Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi . AKURAT.CO, Sejak akhir bulan Februari lalu, pemerintah Indonesia telah memulai proses vaksinasi COVID-19. Bahkan, setelah mendapatkan vaksin Sinovac, kini pemerintah juga telah mendapatkan vaksin lainnya buatan Universitas Oxford, yaitu AstraZeneca. Kementerian Kesehatan RI memutuskan untuk memberhentikan sementara kumpulan produksi dari vaksin ini. Kemenkes mengingatkan masyarakat untuk tidak pilih-pilih ingin mendapatkan vaksin Covid-19 merek tertentu karena semua merek vaksin aman. “Organisasi kesehatan dunia PBB mengatakan jangan memilih vaksin Covid-19 karena semua sama baiknya,” kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kemenkes Siti Nadia Tarmizi.

Nim