Fakta Varian Baru Vaksin Astrazeneca Yang Baru Tiba Di Indonesia

Kalau dia disebabkan oleh vaksin pasti angka kejadiannya akan naik, ini tidak terjadi, kemudian bagaimana pun juga kita harus pantau hal ini, kita harus berhati-hati memantau secara serius, berkala. Pemerintah menemukan kejadian ikutan pasca imunisasi dalam pemberian COVID-19 buatan AstraZeneca masih tergolong ringan. Penting juga untuk dicatat bahwa vaksin coronavirus yang disetujui harus melalui semua uji klinis dan pemeriksaan keamanan semua obat berlisensi lainnya.

Namun, Kementerian Kesehatan juga meminta masyarakat untuk tidak meragukan efektivitas vaksin Covid-19 AstraZeneca, mengingat vaksin ini telah terbukti aman secara global. Pemberhentian distribusi dilakukan sebagai upaya untuk memastikan keamanan vaksin Covid-19 tersebut. Kemenkes menyatakan, batch AstraZeneca selain CTMAV547 aman digunakan sehingga masyarakat tidak perlu ragu. Sebab, dia melanjutkan, vaksin ini sudah teruji dan mendapatkan izin dari otoritas di berbagai negara termasuk Indonesia dan mendapatkan masukan dari ahli. Ini terbukti usai vaksin dilakukan, jumlah kasus, kesakitan, masa rawat terlihat turun. “Oleh karena itu, diharapkan vaksin ini aman, efektif dan bisa diterima dengan baik. Kita tidak perlu berpolemik lebih jauh dalam kekhawatiran ini karena kita pahami bahwa vaksinasi ini dalam rangka untuk terwujudnya kekebalan komunitas ,” katanya.

“Data juga menunjukkan efek samping ini dilaporkan berkurang pada suntikan dosis kedua dibanding dosis pertama,” katanya. Regulator Uni Eropa memastikan bahwa vaksin Covid-19 AstraZeneca efektif dan aman untuk digunakan. Organisasi Kesehatan Dunia juga telah mendaftarkan vaksin tersebut untuk penggunaan darurat.

Setiap negara, tentunya memiliki otoritas obat yang bakal melakukan investigasi dan melaporkan kejadian tersebut ke publik dunia.”Dan, sampai saat ini kita menunggu hasilnya,” kata Penny. “Penggunaan vaksin AstraZeneca tetap terus berjalan dikarenakan vaksinasi Covid-19 membawa manfaat lebih besar, jadi masyarakat tidak perlu ragu karena vaksin ini aman,” kata Nadia, Rabu 19 Mei 2021. Ia mengutip hasil studi juga membuktikan vaksin berdampak baik pada sistem kesehatan secara umum. Sehingga, IDI berharap masyarakat fokus pada tujuan vaksinasi yaitu segera terbentuknya herd immunity sehingga pandemi segera berakhir. Ia menambahkan, mayoritas KIPI bersifat ringan seperti mengantuk, lapar, pegal, nyeri, lemas yang akan membaik dalam kurun waktu satu hingga tiga hari.

Seperti gatal-gatal, kemerahan, nyeri di tempat suntik, yang kemudian akan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan serius. Hasil review pada pertemuan Europe Medicines Agency yang dilaksanakan pada 18 Maret 2021 juga memberikan hasil bahwa manfaat vaksin dalam penanganan COVID-19 lebih besar daripada risiko efek sampingnya. Ellen juga mengingatkan kepada masyarakat untuk menggunakan vaksin yang sama pada dosis 1 dan 2. Selain munculnya keluhan gumpalan darah, Lareb telah menerima banyak laporan kasus di luar dugaan untuk pembekuan lainnya, seperti trombosis vena dalam dan emboli paru. Berdasarkan pemantauan selama dua bulan pasca-penyuntikan dosis kedua, efikasi vaksin Covid-19 AstraZeneca sebesar 62% dan sudah sesuai dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia atau di atas 50%.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Tingkat Pusat & Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dr. Reisa Broto Asmoro mengatakan, penghentian ini sembari menunggu hasil investigasi Komnas KIPI. Di Inggris, tempat produksi vaksin AstraZeneca, saat ada kasus KIPI berat maka vaksinasi dihentikan sampai ada bukti ada hubungannya dengan vaksin atau tidak. Begitu laporan menunjukkan tidak ada hubungan, maka vaksinasi kembali dilakukan. “Bila terjadi KIPI yang berat dihentikan, bukan berarti berhenti selamanya. Ini sifatnya prosedural dan dilakukan untuk semua hal, bukan hanya vaksin tetapi juga obat. Efek samping vaksin rata-rata sama, ringan hingga sedang,” tuturnya. Obat yang mengandung paracetamol bisa digunakan untuk mengatasi efek samping semisal nyeri dan atau demam.

Efek samping dari vaksin Astrazeneca

Sementara itu, otoritas Austria telah menangguhkan inokulasi dengan sejumlah vaksin Covid-19 AstraZeneca sebagai tindakan pencegahan saat menyelidiki kematian satu orang dan penyakit orang lain setelah menerima suntikan. Keputusan dilakukan setelah Reuters mengutip otoritas kesehatan Austria yang mengungkapkan menerima dua laporan tentang hubungan sementara dengan vaksinasi yang melibatkan batch tertentu dari vaksin AstraZeneca di sebuah klinik di Austria Bawah. Sebagian besar vaksin yang digunakan dalam vaksinasi nasional di Indonesia adalah produk AstraZeneca yang diproduksi di fasilitas pembuatan milik Serum Institute of India. Vaksin Sinovac meiliki gejala efek samping semacam pegal dan nyeri pada titik suntikan, dan sering juga rasa gatal serta kantuk dialami penerima vaksin. Otoritas Kesehatan Filipina menyetop sementara pemakaian vaksin AstraZeneca untuk warga usia di bawah 60 tahun. Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Filipina Enrique Domingo mengatakan, meski demikian pihaknya belum menemukan kasus pembekuan darah terhadap orang-orang yang disuntik vaksin AstraZeneca.

Namun, ini saja tidak cukup untuk menyimpulkan adanya hubungan antara vaksin dan kasus pembekuan darah tertentu. Dalam tingkat yang lebih tinggi dari mereka yang telah divaksinasi, adalah orang-orang yang lebih mungkin berisiko lebih tinggi mengalami kejadian pembekuan darah. Itu termasuk mereka yang berusia lanjut, dan orang-orang yang mengalami obesitas.

Sementara itu, menurut Wiku, terkait laporan efek samping yang berskala ringan hingga sedang sudah ditangani di fasilitas kesehatan terdekat. Belum diketahui secara pasti efek interaksi vaksin AstraZeneca bila digunakan bersama dengan obat, suplemen, atau produk natural tertentu. Agar aman, beri tahu dokter sebelum vaksinasi jika Anda sedang menggunakan obat, suplemen, atau produk natural apa pun. Terkait hal tersebut, di tengah masyarakat beredar anggapan bahwa efek samping vaksin AstraZeneca cenderung lebih keras dari vaksin Sinovac. Bermula dari cerita pengalaman orang-orang yang mengaku sudah menjalani vaksinasi COVID-19. Sebelum digunakan, vaksin COVID-19 AstraZeneca telah melalui serangkai pemeriksaan dan penelitian oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan dan Majelis Ulama Indonesia .

Sedangkan untuk vaksin baru AstraZeneca memiliki gejala umum dan gejala jarang pada penerimanya. Namun di Indonesia sendiri, Sinovac telah mendapat izin Emergency Use Authorization dari Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk diberikan pada masyarakat dengan usia lansia mulai 60 tahun dan diatasnya. Sedangkan hasil efikasi untuk vaksin AstraZeneca mencapai perlindungan 64,1% pada satu dosis standar. \\\\\\\”Saya mengkonsumsi parasetamol setelah saya secara resmi mengalami \\\\\\\”demam\\\\\\\”, dan kemudian ibuprofen dan unisom sebelum tidur. Keesokan paginya aku merasa cukup sehat, dengan rasa sakit yang menetap di persendianku,\\\\\\\” lanjutnya.

Nim